Prabowo Yang Tak Kunjung Mendeklarasikan Dirinya, Ada Apa…

0
244 views

Netralnkri.com – Pengurus daerah Partai Gerindra Jawa Barat dan Banten telah mendeklarasikan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2019.

Namun, hingga kini Prabowo dan dewan pengurus pusat partai berlambang kepala burung garuda itu belum memberikan kepastian untuk maju bertarung pada Pilpres 2019.

Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno berpendapat DPP Gerindra, dan juga Prabowo Subianto sedang berhitung tentang kekuatan politiknya sebelum resmi mendeklarasikan kandidat Capres di pemilu 2019.

“Prabowo dan Gerindra sedang banyak pertimbangan, untuk mengusung kembali Prabowo atau tidak, ini yang sedang dilakukan dalam waktu dekat. Pencapresan kan sebelum Agustus,” kata Adi saat dihubungi CNN Indonesia.com, Jumat (16/3).

Adi menilai ada empat faktor yang menjadi penyebab deklarasi calon presiden dari Gerindra tak kunjung dilakukan.

Pertama, kata Adi, internal DPP Gerindra dan Prabowo kemungkinan besar sedang mengevaluasi persoalan rekam jejak mantan Danjen Kopassus itu. Sebab, Prabowo pernah kalah dalam dua kontestasi Pilpres sebelumnya.

Gerindra dan Prabowo dinilai akan berbenah dan tak akan mengulangi kekalahan yang sama di Pilpres 2019 mendatang.

Prabowo mengalami kekalahan pertamanya pada kontestasi Pilpres sejak tahun 2009 lalu. Saat itu, ia menjadi calon wakil
presiden berpasangan dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri sebagai capres. Pasangan ini hanya mendapatkan 26,79 persen suara kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono keluar sebagai pemenang dengan 60.8 persen suara sah nasional.

Sedangkan di Pilpres 2014 lalu, Prabowo yang maju sebagai capres berpasangan dengan Hatta Rajasa juga dikalahkan oleh pasangan Jokowi-Jusuf Kalla yang meraih 53.15 persen suara sah nasional.

“Jadi mereka ini kan sedang berpikir soal kredibilitas pak Prabowo yang beberapa kali mencalonkan”.

QQAsia

Menurut Adi, kandidat itu nantinya diharapkan bisa mendongkrak suara dan mengalahkan calon presiden yang telah memastikan maju di 2019, Joko Widodo.

“Jadi kalau dia deklarasi capres cepat-cepat, itu sama saja menutup pintu bagi kandidat lain yang punya potensi bisa mengalahkan Jokowi untuk didukung oleh Gerindra, tapi hal ini memang butuh kebesaran hati yang besar dari Prabowo juga karena dia harus rela tak jadi capres,” kata dia.

Lalu pertimbangan lainnya, Gerindra dinilai masih berkonsolidasi untuk menguatkan logistik partai dan modal koalisi parpol pendukung agar kandidat capres/cawapres yang diusungnya dapat memenangkan kontestasi Pilpres 2019 mendatang.

Adi menilai status Gerindra sebagai parpol di luar pemerintahan tak memiliki ‘kemewahan’ ketimbang partai pendukung pemerintah lainnya untuk mengakses sumberdaya baik politik, ekonomi dan lainnya.

“Jadi mereka memang enggak punya kemewahan untuk mengakses sumberdaya dan fasilitas publik ya, kurang logistik mereka itu,” kata dia.

Akan tetapi, Adi menilai, kedua parpol tersebut diprediksi akan kesulitan dan kewalahan untuk memenangkan capres/cawapres yang diusung di Pilpres 2019 mendatang.

“Mesin politiknya kurang, dia (Gerindra) harus menggandeng PKS dan menggandeng partai lain juga agar peluang menangnya mudah,” ujar Adi.

Pertimbangan terakhir, kata Adi, Gerindra sengaja menggunakan momentum ini untuk menarik simpati masyarakat dengan cara belum mendeklarasikan nama capres sehingga nama Prabowo sebagai simbol partai dan Gerindra sendiri terus menerus diingat masyarakat.

Hal ini bertujuan sebagai strategi politik agar Gerindra dan Prabowo terus-menerus menjadi perhatian publik yang berdampak pada terdongkraknya elektabilitas dirinya dan Gerindra secara bersamaan untuk modal di Pilpres 2019.

“Saya menduga biar ingatan publik ke pak Prabowo yang digadang akan melawan Jokowi terus diingat, ini justru jadi kampanye gratis dan jadi media daring yang terus dibicarakan dan diberitakan,” kata Adi.

Sumber: cnn Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here