Anies Ngotot Tolak Serahkan Hadiah dari Ulama Ghana Ke KPK , Ini Alasannya

0
646 views

NetralNkri.com – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tak mau melaporkan hadiah dari pendakwah Ghana yang ia terima saat menghadiri penutupan Pertemuan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa kelima.

Anies berdalih pemberian itu bukan untuk dirinya secara pribadi, tapi untuk Gubernur DKI Jakarta.

“Saya akan taruh di Balai Kota semua. Kalau untuk Anies, saya laporkan. Ini buat Gubernur DKI Jakarta, ini jadi inventaris Pemprov,” kata Anies saat ditemui di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Jumat (6/7/18).

Dalam acara itu, seorang pendakwah Ghana bernama Muhammad Harun memberikan sebuah tongkat dengan ukiran harimau di atasnya. Selain itu Anies mendapat kopiah, syal, dan dua kemeja khas Ghana.

Anies menyebut Harun bercerita kalau tongkat itu adalah tongkat kepala suku di sana. Harimau di tongkat tersebut jadi simbol pemimpin yang ditaati, dihormati, dan diikuti rakyatnya.

“Kepada saudara saya Muhammad Harun, yang memberi hadiah setelah berpidato dengan bahasa Afrika. Akan saya berikan topi penanda Gubernur DKI Jakarta,” ucap Anies.

“Tanpa perlu ikut pilkada,” canda Anies.

QQAsia

Berdasarkan Pasal 12B Ayat (1) UU 20/2001 Tentang Perubahan Atas UU 31/1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, setiap pemberian gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap suap.

Hal itu tak berlaku jika mereka melakukan pelaporan ke KPK dalam waktu tiga puluh hari setelah menerima gratifikasi. Lalu KPK punya waktu tiga puluh hari menentukan apakah gratifikasi itu termasuk suap atau bukan.

Pertemuan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa ke-V diinisiasi Yayasan Al-Manara. Pemprov DKI Jakarta berperan sebagai tuan rumah dan penyedia fasilitas acara yang digelar 3-6 Juli 2018 ini.

Dalam pertemuan tersebut sejumlah tokoh terlihat hadir, seperti Ustaz Abdul Somad dan Bachtiar Nasir.

Sumber : CNNIndonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here